Menjaga Kesalehan Keluarga Melalui Konsumsi Halal

Sumber gambar: Mubadalah.id

Di antara hak tubuh ialah mengonsumsi makanan halal dan thayyib. Allah memberikan penekanan serius mengenai persoalan ini. Terbukti, perintah mengonsumsi hanya sesuatu yang halal dan thayyib disebutkan berulang kali dalam beberapa ayat, antara lain QS. Al-Baqarah ayat 168, Al-Maidah ayat 88, Al-Anfal ayat 69, dan An-Nahl ayat 114.

Dalam hadis juga demikian. Rasulullah mengaitkan status diterima atau ditolaknya doa seorang hamba dengan apa yang masuk ke perutnya. Jika yang dimakan haram, meski ia penat berdoa hingga berpeluh keringat walaupun menjadi musafir -padahal kondisi safar meningkatkan presentase makbulnya doa-, permohonannya kepada Allah tetap tidak akan diijabah.

Dalam hadis lain, dikisahkan seorang sahabat memiliki anak yang “kurang beradab”. Saat ditanya Nabi, ternyata musababnya lantaran saat istrinya hamil, sahabat tersebut memberi makan dari sumber yang tidak halal. Maka, konsumsi halal amat penting kaitannya dalam usaha membangun kesalehan keluarga, khususnya keturunan.

Mengupayakan konsumsi halal menjadi tugas utama dari suami. Kedudukannya sebagai pencari nafkah dan tulang punggung ekonomi keluarga menuntut suami bersikap hati-hati dalam mencari maisyah. Proses yang menyertainya perlu diperhatikan secara cermat, agar tidak menyimpang dari garis tuntunan syariat. Karena itu, pengetahuan tentang hukum muamalah wajib dikuasai.

Dalam berdagang, misal, perlu diketahui banyak aspek yang menentukan keabsahan dan keberkahan jual-beli. Di antaranya kerelaan dari masing-masing pihak penjual dan pembeli (‘an taradhin), kejelasan informasi secara berimbang (‘adamul gharar), ketiadaan riba, serta penghindaran dari berbagai praktik kecurangan: manipulasi, eksploitasi, dan spekulasi.

Di masa Rasul, pernah terjadi kasus yang diduga mengindikasikan adanya kecurangan dalam transaksi dagang. Ketika sidak di pasar, Nabi memasukkan tangannya ke dalam bahan pangan yang dijual seorang pedagang. Didapati oleh beliau, bagian dalam bahan pangan itu basah.

Si pedagang berdalih bahwa makanan tersebut kehujanan. Namun, Nabi mempertanyakan kenapa bagian yang basah itu tidak diletakkan di atas. Lantas, beliau memberi peringatan keras:
مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنَّيْ. (رواه مسلم)
“Siapa yang berbuat curang tidak termasuk umatku.”

Bahkan, saking pentingnya menghadirkan kerelaan dari para pihak, pembeli diberi hak khiyar, hak untuk memilih dan meneliti kualitas barang sebelum benar-benar memutuskan untuk lanjut ke tahap sepakat dan melakukan pembayaran.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا. (متفق عليه)
“Penjual dan pembeli masih memiliki hak khiyar selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan apa adanya, maka keduanya diberkahi dalam jual belinya. Jika keduanya menyembunyikan (cacat barang) dan berdusta, maka akan dihapus berkah dari transaksi jual-beli keduanya.”

Pelbagai ketentuan tersebut tentu tidak hanya berlaku bagi kalangan pedagang, melainkan juga dapat diperluas cakupannya ke berbagai lini profesi lain yang bersinggungan dengan transaksi ekonomi. Baik yang dijual produk maupun jasa, rambu-rambu itu tetap mutlak dijadikan pedoman.

Setelah suami memastikan kehalalan sumber penghasilannya, tanggung jawab untuk memastikan kehalalan makanan berada di tangan istri. Dalam proses pemilihan bahan, pengolahan hingga memasak, istri menyiapkan hanya makanan halal dan thayyib. Sehingga, beberapa bidang keilmuan, mulai dari fiqih, ilmu gizi, hingga gastronomi perlu dipahami dengan baik. Minimal ilmu dasar yang bersinggungan secara langsung.

Pada banyak kasus, titik kritis yang berpotensi menyebabkan berkurangnya berkah sangat mungkin terjadi ketika kaum ibu-ibu melakukan tawar-menawar saat membeli kebutuhan rumah tangga. Tanpa bermaksud menjustifikasi, pada umumnya, ibu-ibu “sangat aktif” dalam urusan ini. Entah karena insting naluriah atau karena minimnya uang bulanan dari suami.

Terlepas dari itu, perlu dipahami, menawar terlalu rendah di bawah harga normal sebaiknya dihindari agar tidak merugikan penjual. Apalagi jika kondisi pasar sedang sepi, boleh jadi penjual melepas barang dagangannya dengan harga rendah karena terpaksa, bukan sebab ridha. Bila seperti itu yang terjadi, maka keberkahannya berpotensi hilang.

Dalam hal ini, para ibu perlu mengingat nasihat Nabi:
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى. (رواه البخاري)
“Allah mengasihi orang yang bermurah hati ketika menjual, bermurah hati saat membeli, dan bermurah hati jika menagih.”

Terakhir, dalam Kitab Manba’us Sa’adah karya KH. Faqih Abdul Qadir, sebagaimana dinukil Nyai Hj. Rahmi Kusbandiyah, status thayyib makanan itu juga ditentukan oleh cara seseorang mengonsumsinya. Maka, membiasakan diri dan keluarga dengan pola konsumsi yang baik dan tidak berlebihan menjadi bagian penting untuk mendidik anak agar menjadi generasi yang bijak, minimal dalam menikmati sajian. WaLlahu alam.

Ahmad Asrof Fitri

Tulisan ini tayang di: https://mubadalah.id/menjaga-kesalehan-keluarga-melalui-makanan-halal/

Berbahagia Menerima Tugas

Kebanyakan orang mungkin tidak senang jika diberi tugas. Apalagi kalau sulit dan belum pernah dilakukan. Rata-rata akan menolak secara halus dengan menyarankan agar tugas itu dialihkan kepada yang dirasa lebih mampu. Mungkin juga memakai dalih “sibuk”, meskipun sebenarnya punya banyak waktu rebahan.

Jujur, saya pun aslinya begitu. Bedanya, saya membuat pengecualian. Bila yang memberi tugas adalah guru, ustadz, kyai, atau dosen, pasti saya iyakan. Pantang rasanya mengatakan kata “tidak” atas dawuh beliau-beliau, walau kadang tugas itu terasa di luar jangkauan dan kemampuan. Modal nekat saja. Hasil akhir urusan belakangan. Yang penting, berikhtiar sebaik-baiknya.

Pernah saya diminta membadali abah kyai menjadi khatib sekaligus mengimami shalat Jumat. Walau beberapa hari sebelumnya sudah diberi tahu agar persiapan, tetap saja rasa grogi dan tidak percaya diri itu juga muncul. Maklum, pengalaman pertama.

Nahas, saat membaca khutbah Jumat, tiba-tiba kertas naskahnya beterbangan ke arah jamaah karena ditiup kipas angin yang berada di atas saya persis. Saya lantas berusaha menjangkau lembaran kertas itu. Sial tak dapat ditolak, saya njungkel, jatuh terjerembab ke arah jamaah shaf pertama. Mimbar tempat saya berpijak ikut oleng, lalu menimpa beberapa orang sepuh. Brak!

Bersamaan dengan itu, saya terbangun dari tidur dengan cucuran keringat. Untung cuma mimpi. Jika ini kenyataan lalu direkam video, pasti akan viral, membuat gempar, dan menjadi bahan guyon sampai tujuh turunan. Saya mengucap hamdalah berkali-kali karena semua itu tak lebih dari sekadar imajinasi.

Di hari H, ternyata semua bayangan negatif itu hilang. Kenyataannya lebih baik dan lancar daripada bayangan. Benar kata David J. Schwartz, cara terbaik menaklukkan rasa takut adalah dengan menghadapi dan melakukan. Rasa takut akan semakin tumbuh besar jika hanya dipikirkan, apalagi dibiarkan.

AlhamduliLlah, waktu itu, semakin hari, abah kyai semakin intens mempercayakan tugas tertentu. Mulai dari mengisi pengajian di kalangan jamaah masjid, mewakili beliau di pertemuan tertentu, hingga menyiapkan bahan kajian, ataupun menerjemah kitab. Rasa-rasanya semua tugas itu dimaksudkan untuk menempa diri saya.

Dari situ saya semakin yakin, penugasan termasuk bagian penting dalam proses pendidikan. Tugas yang diamanahkan oleh guru, dalam pandangan saya, mengindikasikan sekurang-kurangnya tiga hal: (1) beliau memandang kita cukup mampu mengemban amanah tersebut; (2) beliau ingin mendidik kita agar lebih baik melalui tugas itu; dan (3) beliau masih mengingat kita dan ingin terus menjalin hubungan guru-murid yang langgeng.

Menjadi murid yang diingat oleh guru dan mendapat kesan yang baik itu hal yang sangat amat penting, menurut saya. Sebab, dalam kitab Ihya’ Ulumaddin terdapat hadis yang menjelaskan, kelak di akhirat, ada tiga golongan yang diberi hak istimewa untuk memberi syafaat, antara lain para nabi, kemudian ulama, barulah syuhada.

Dalam bahasa sederhana; kyai, ustadz, guru, dan dosen kita itulah representasi dari ulama yang kelak kita harapkan pula syafaatnya. Kalau guru kita tidak ingat pernah punya murid macam kita, bagaimana caranya memberi syafaat? Apa mau nyari daftar hadir atau presensi dulu? Ingat, bosku, ini akhirat. Kalaupun ada, jangan-jangan di sana hanya tertulis dua huruf: “TA” alias titip absen. Hahaha.

Ahmad Asrof Fitri, santri abadi

Pelayan yang Lebih Baik dari Yang Dilayani

Pekan lalu saya membuat quis Rabu di Instagram. Pertanyaannya, “Siapakah pelayan yang lebih mulia daripada orang yang dilayani?” Sebelum memposting pertanyaan tersebut, sebenarnya saya sudah menyiapkan jawaban, yang menurut saya, bagus dan argumentatif. Apa itu?

Di dunia pesantren, para kyai sering menyebut dirinya sebagai khadimul ma’had. Artinya lebih kurang, pelayan pondok. Di dalam beberapa literatur kitab kuning, juga kadang ada muallif yang memakai istilah khadimulilmi, pelayan ilmu.

Berarti dalam ungkapan-ungkapan tersebut jelas, yang disebut khadim (pelayan) adalah ulama, dalam beragam bentuknya. Bisa kyai, ustadz, guru, penulis, atau siapa pun yang menjadi washilah tersampaikannya ilmu Allah. Maka, orang yang dilayani (al-makhdum) sudah tentu murid, santri, pelajar, pembaca.

Pertanyaan di atas sebenarnya bukan soal siapa, melainkan apa pemaknaan yang sesuai dari “pelayan” dan “orang yang dilayani”. Bisa saja, jawaban lain lebih tepat daripada penjelasan yang saya tuliskan itu. Dan, ternyata memang betul. Saya mendapat pemaknaan yang lebih baik dari seorang teman.

Menurutnya, jawaban dari pertanyaan tersebut adalah:
سيد القوم خادمهم.
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka. Jika dia bisa menjadi pemimpin yang baik, dia adalah pelayan yang lebih baik daripada yang dilayani.”

Sampai sekarang, inilah jawaban terbaik yang saya peroleh. Penjawabnya berhak mendapatkan hadiah, sebagaimana yang dia request kepada saya, meski bingkisan tersebut baru bisa saya kirimkan di pertengahan bulan Februari. InsyaaLlah.

Andai rekan saya itu tidak ikut quis, mungkin saya akan memilih ungkapan ini sebagai jawaban terbaik: “pelayan yang sedang melayani pelayannya orang yang dilayani”. Kenapa? Kalimat ini punya makna tersembunyi, yang menurut saya, bisa diartikan sebagai santri atau murid yang berkhidmat kepada kyai atau guru.

Ungkapan tersebut membuat saya teringat dawuh kyai saya sewaktu mondok di Solo bahwa tingkatan tertinggi dari suatu pekerjaan adalah berkhidmat, melayani. Sayangnya, komentar tersebut tidak disertai dasar filosofisnya. Sehingga, terpaksa tidak bisa dipilih.

Terlepas dari itu, terima kasih atas atensi dan tanggapan dari para penjawab di kolom komentar instagram. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di quis selanjutnya.


Ahmad Asrof Fitri, khadimul khadimin